Membangun Rumah dengan Bata Ringan
Keamanan dan kenyamanan saat berada di dalam rumah merupakan hal yang sangat penting, terutama bangunan rumah pada daerah rawa dan tanah lunak. Sering terjadi kasus ambruknya rumah yang diakibatkan karena tidak kuatnya struktur rumah. Rumah tembok yang harus diperhatikan adalah bagian pondasi, sloof, kolom, balok dan rangka atap. Inovasi teknologi bahan bangunan pada masa sekarang ini semakin beragam, di awali dengan adanya pengganti batu bata (dari tanah liat) menjadi dinding ringan aerasi (hebel). Secara lebih khusus pada dinding, dimasa lampau masyarakat lebih familiar menggunakan material seperti batu bata dan batako, akan tetapi saat ini dengan adanya perkembangan teknologi bahan bangunan yang semakin pesat, tren masyarakat lebih cenderung memilih bahan bangunan dengan masa ringan.
Pemilihan material penyusun dinding pun menjadi hal yang perlu diperhatikan karena seringkali hal yang menyebabkan struktur pondasi mengalami penurunan yaitu beratnya beban dinding. Bata ringan hadir sebagai salah satu terobosan baru dengan dimensi yang lebih besar serta kualitas yang lebih seragam daripada bata merah. Bata ringan atau beton ringan AAC (Autoclaved Aerated Concrete) pertama kali dikembangkan di Swedia pada 1923 sebagai alternatif material bangunan untuk mengurangi penggundulan hutan. Bata ringan materialnya menyerupai beton dan memiliki sifat kuat, tahan air dan api serta awet. Terdapat 2 jenis bata ringan yang sering digunakan pada dinding bangunan yaitu Autoclaved Aerated Concrete (AAC) dan Celluler Lightweigt Concrete (CLC). Kedua jenis bata ringan ini terbuat dari bahan dasar semen, pasir, dan kapur, yang berbeda adalah cara pembuatannya. Bata ini cukup ringan, halus, dan memiliki tingkat kerataan yang baik sehingga bisa langsung diberi aci tanpa harus diplester terlebih dahulu (Rafik et.al, 2018).
Bahan untuk acian biasanya menggunakan semen instan atau semen khusus. Semen ini berbahan dasar pasir silika, semen, filler, dan zat aditif. Bata Ringan memiliki ukuran 60 cm x 20 cm dengan ketebalan 8- 10 cm (Tedja & Efendi, 2014). Bata ringan AAC mempunyai ketahanan yang baik terhadap api dibandingkan dengan bata normal. Menganalisis tentang material mikrostruktur bata ringan aerasi pada konstruksi dinding dengan menggunakan scanning electron mikroskopis (SEM). Penggunaan bata ringan dalam pembangunan obyek rumah atau bangunan yang lainnya saat ini mulai banyak dikenal oleh masyarakat kita, meskipun berdasarkan spesifikasi yang dimilikinya mempunyai kelebihan dan sekaligus memiliki kekurangan. Kelebihan penggunaan bata ringan dapat diuraikan sebagai berikut ini:
- Memiliki bentuk, ukuran dan kualitas yang seragam sehingga dapat menghasilkan dinding yang rapi.
- Dapat menghemat penggunaan perekat karena tidak memerlukan sir yang tebal.
- Beban struktur lebih kecil karena lebih ringan dari pada bata biasa sehingga memudahkan dalam proses pengangkutannya.
- Untuk waktu pelaksanaannya lebih cepat daripada pemakaian bata biasa.
- Tidak memerlukan plesteran yang tebal, karena umumnya ditentukan hanya 2,5 cm saja.
- Struktur kedap suara dan kedap air, sehingga kecil kemungkinan terjadinya rembesan air. Kuat terhadap tekan yang tinggi sehingga mempunyai ketahanan yang baik terhadap gempa bumi.
(Tanjung & Munte, 2020)
Baca Juga Artikel Menarik Lainnya Disini 5 Tips Mudah Memilih Bata Ringan Berkualitas Tinggi
Daftar Pustaka
Rafik, A., Humaidi, M., & Cahyani, R. F. (2018). Pengaruh Penggunaan Bata Merah dan Bata Ringan Terhadap Dimensi Pondasi dan Harga Rumah Tipe 54. Jurnal INTEKNA, 18.
Tanjung, D. A., & Munte, S. (2020). Pelatihan Pembuatan Bata Ringan Kepada Home Industri Batu Bata Konvensional Guna Mendukung Program Pemerintah 1 Juta Rumah Bersubsidi. Journal of Education, 578-582.
Tedja, M., & Efendi, J. (2014). Perbandingan Metode Konstruksi Dinding Bata Merah denganDinding Bata Ringan. Comtech, 272-279

