Bata Ringan Kalimantan vs Bata Merah

Bata ringan Kalimantan yang kita produksi yakni AXEL AAC (Autoclaved Aerated Concrate) merupakan salah satu solusi dalam membangun sebuah bangunan dengan waktu yang singkat. Waktu pengerjaan yang dapat dilakukan minimal 4 kali lebih cepat dan rapi dikarenakan dimensi ukuran yang besar serta bentuk yang lebih presisi sehingga membuat pengerjaannya lebih cepat. Bata ringan AAC juga mempunyai varian ketebalan untuk menyesuaikan kebutuhan customer. Namun masih saja sebagian masyarakat lebih memilih menggunakan bata ringan dikarenakan mitos yang mengatakan bahwa bata ringan mudah hancur ketimbang bata merah.

  1. Bahan Baku

Perbedaan kedua bata ini dapat dilihat dari bahan bakunya yang dimana akan mempengaruhi dari segi kekuatannya.

Bata ringan diproduksi bahan baku khusus yang dimana proses pencampuran bahan dijadikan adonan lalu di tuangkan ke dalam wadah dan kemudian mengembang. Setelah mengering bata akan di potong sesuai dengan ukuran yang diinginkan, lalu dimasukkan kedalam mesin autoclaved. Proses ini yang menghasilkan kekuatan untuk bata.

Bata merah terbuat hanya dengan menggunakan tanah liat yang dilebur lalu di cetak sesuai ukuran yang diinginkan kemudian di bakar hingga berwarna merah dan mengeras.

  1. Test daya tekan/hantam

Untuk test professional, dapat menggunakan test di Lembaga khusus penyedia jasa tersebut. Data tes menunjukkan bata ringan masih lebih kuat dibandingkan dengan bata merah. Rata-rata bata merah mampu menahan beban hingga 25 Kg/cm2. Sedangkan bata ringan mampu menahan hingga 54,6 Kg/cm2. Dari sini dapat kita lihat bahwa kekuatan bata ringan 2 kali lebih kuat daripada bata merah.

Dari daya tekan/hantam ini dapat kita simpulkan untuk kekuatan bata ringan lebih kuat 2 kali lipat di bandingkan dengan bata merah, sehingga rumor yang beredar tidaklah benar. Bata ringan menjadi lebih ringan dikarenakan saat pencampuran pasir kwarsa, semen, kapur, gypsum air dan alumunium pasta terjadi reaksi kimia. Bubuk alumunium bereaksi dengan kalsium hidroksida yang ada di dalam pasir kwarsa dan air sehingga membentuk hydrogen. Gas hydrogen ini membentuk gelembung-gelembung udara didalam beton dan menjadikan volumenya menjadi dua kali lebih besar dibandingkan volume semula. Akhir proses pengembangan ini akan membuat hydrogen terlepas ke atmosfer dan langsung digantikan oleh udara. Rongga-rongga udara inilah yang terbentuk inilah yang membuat beton menjadi ringan. Bukan berarti dia tidak lebih kuat dibandingkan bata merah.

  1. Kecepatan proses pemasangan

Bata merah memiliki proses pemasangan yang lebih lambat pengerjaannya karena ukurannya lebih kecil daripada bata ringan. Bata ringan karena ukurannya lebih besar, sehingga pengerjaan lebih cepat. Walaupun dari segi kualitas dan kuantiti biaya lebih mahal & semennya khusus, biaya tenaga kerja lebih murah karena lebih cepat selesai. Namun dari segi penampilan, bata ringan terkesan 'dingin' dengan warna putihnya. Perlu diingat aplikasi pasangan dinding bata ringan akan ideal jika menggunakan perekat, plesteran, dan acian dari bahan mortar. Selain itu dimensi yang lebih besar akan mengakibatkan potongan buangan (waste) yang lebih sedikit dibandingkan bata merah. Hal tersebut akan mempengaruhi bobot biaya pekerjaan yang bersanding dengan bobot waktu pelaksanaan dalam penentuan faktor efisiensi secara keseluruhan.

  1. Berat jenis bata

Bata ringan lebih sering digunakan karena ringan. berat jenis bata ringan di kisaran 600 kg/m3. sedangkan bata merah sekitar 1.700 kg/m3. Ringannya dinding akan mengurangi beban yang diterima oleh lantai dan balok dan pada akhirnya mengurangi beban bangunan yang harus dipikul pondasi.

 

Kesimpulannya, efisiensi menggunakan bata ringan akan terasa lebih signifikan pada bangunan bertingkat dengan skala besar (seperti rumah mewah, malltower, dsb), dengan menurunkan waktu pelaksanaan, dan beban struktur bangunan.

Open chat
1
#HaloAxel siap membantu
Scan the code
#HaloAxel siap membantu